Seks Pengaruhi Kualitas Hidup Print E-mail
Share

Fajar | Makassar, 25 Januari 2010 | Berita Daerah

INGIN kualitas hidup meningkat? Mulailah dari kehidupan seksual yang sehat.
KEHIDUPAN seksual adalah sebagian dari kehidupan manusia, bahkan bisa dikatakan sebagai kebutuhan mendasar. Oleh karena itu, baik tidaknya kualitas hidup akan dipengaruhi oleh kehidupan seksual.

Hal ini disampaikan Kepala Bagian Andrologi dan Seksologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Prof Dr dr Wimpie Pangkahila, dalam seminar kesehatan tentang seks sehat yang digelar Corporate Social Responsibility (CSR) GHI dari PT Citra Nusa Insan Cemerlang (CNI) di Clarion Hotel & Convention Makassar, Sabtu, 23 Januari.

Wimpie mengatakan, tidak semua orang dapat mengalami kehidupan seksual yang sehat dengan pasangannya. “Bahkan ada yang mengalami kehidupan seksual yang tidak sehat sehingga menjadi tidak harmonis,” kata Wimpie.

Ia mengurai, ada tiga penyebab hubungan yang tidak harmonis. Pertama, dikarenakan komunikasi seksual yang tidak baik dengan pasangan. Kedua, pengetahuan seksual yang tidak benar. Ketiga, adanya gangguan fungsi seksual pada salah satu pihak atau kedua pihak.

“Perlu Anda ketahui, 15-20 persen laki-laki mengalami masalah disfungsi ereksi (DE) dalam saltu periode hidupnya disebabkan oleh faktor fisik, sebagai akibat dari kesalahan dalam menjalankan gaya hidup,” katanya.

Jadi, lanjutnya, hubungan seksual yang sehat pada dasarnya adalah hubungan seks yang dikehendaki bersama, dapat dinikmati bersama, dan tidak menimbulkan akibat buruk, baik fisik maupun psikis. “Jadi, tak ada batasan frekuensi ideal untuk melakukan hubungan seksual. Intinya, kalau ada kesepakatan dan kenyamanan dari masing-masing pasangan,” katanya.

Pada dasarnya, Wimpie memaparkan bahwa penyebab disfunsi dibagi menjadi dua kelompok, yaitu penyebab fisik dan penyebab psikis.

“Penyebab fisik berupa penyakit dan gangguan fisik lain yang tidak dirasakan, misalnya kolesterol tinggi dan penyakit kencing manis,“ kata Wimpie.

Apapun penyebab dasar disfungsi seksual, lanjutnya, pada akhirnya setiap orang yang mengalami akan mengalami masalah psikis.

“Laki-laki yang mengalami disfungsi ereksi misalnya, hampir pasti akan mengalami perasaan kecewa, jengkel, marah, rendah diri, stress, dan malu, sehingga dapat muncul reaksi lain seperti menyalahkan istri sebagai penyebab, menjauhi istri agar tidak melakukan hubungan seksual, mencoba hubungan seksual dengan wanita lain, dan mengobati dengan upaya sendiri yang acapkali salah. Di pihak lain, pasangannya juga mengalami perasaan kecewa, tidak puas, jengkel, marah,“ kata Wimpie.

Oleh karena itu, ia berpesan bahwa lakukanlah hubungan seks yang berimbang, yaitu hubungan seks yang dikehendaki bersama dan menambah pemahaman tentang seks agar dapat menambah gairah hidup. “Seks sehat selain untuk menambah gairah hidup, juga dapat membantu Anda menghilangkan stres dalam hidup. Pengobatan tentang disfunsi seksual dapat diatasi dengan cara yang benar dan ilmiah. Jangan terkecoh dengan iklan-iklan kesehatan yang seringbermunculan,” kata Wimpie berpesan. (*)

 

 

Member Log In

Member ID :
Password :

CNI eNews

RSS Syndicator

CNI Feed